Beberapa
waktu yang lalu saya mengikuti diskusi di Rumah Bersalin, Rumah Bersalin adalah nama
untuk kontrakan saya. Diskusi tersebut berlangsung pada pagi hari waktu Indonesia
Bagian Barat, tema diskusinya Soundscape. Saya baru mengenal istilah tersebut,
beberapa teman diskusi juga merasakan hal yang sama, sama-sama baru denger
istilah tersebut. Apakah kalian juga sama seperti kami?
Istilah
Soundscape berasal dari dua kata,
yaitu sound dan scape, sound artinya
bunyi atau suara, sedangkan scape
merupakan singkatan dari kata landscape, artinya
pemandangan. Jadi bila digabungkan menjadi soundscape
artinya adalah pemandangan yang
berupa suara atau bunyi. Istilah ini muncul baru saja, hasil renungan
seorang komponis Kanada, Murray Scaffer (lahir pada tahun 1933) dalam bukunya
berjudul “Ear Cleaning”, yang diterbitkan pada tahun 1967. Istilah pemandangan
bunyi mungkin aneh bagi orang Indonesia, pemandangan bunyi membahas bagaimana
suara-suara itu mengambil bagian dalam konteks suara dalam suatu lingkungan.
Konsep
pemandangan suara sedikit berbeda dengan konsep pemandangan pada umumnya,
khususnya dalam hal ide, secara umum pemandangan adalah wujud visual, yaitu
yang dapat dilihat oleh mata, sedangkan pemandangan suara tidak dapat dilihat.
Oleh karena itu maka Scafer mengusulkan agar nama pemandangan suara diganti
dengan istilah pemandangan akustik atau pemandangan untuk telinga.
Belajar
soundscape sama halnya dengan melatih
kepekaan indra pendengaran kita. Dengan perkembangan teknologi muncul
permasalahan, kemampuan telinga manusia semakin lama semakin lemah dan
berkurang. Kita harus sadar bahwa lingkungan kehidupan kita dibentuk atau
ditentukan oleh kesadaran kita dalam menggunakan indra yang kita miliki. Jaman
dahulu kehidupan orang-orang kuno sangat bergantung dengan alam, sehingga
mereka mampu memaksimalkan semua indra yang mereka miliki, termasuk indra
pendengar. Saat ini lingkungan kita telah dibanjiri oleh polusi bunyi yang
bertebaran dimana-mana, hal tersebut merupakan akibat dari sikap kita yang
kurang peduli terhadap sumber bunyi di lingkungan kita.
Apakah
kita masih peduli mendengarkan suara lingkungan? Atau Bagaimana cara kita untuk
mengembalikan fungsi indra pendengar kita? Jawabannya ada pada kita, mana yang
lebih cocok dengan kita, atau kita menghendaki suara lingkungan yang kita
tentukan melalui rencana atau kesepakatan. Salam Pramuka!!!


