16.9.15

perjalanan musik, mengenal


Beberapa hari yang lalu secara tidak sadar, saya telah mengiyakan ajakan teman baik saya yang tidak begitu baik juga rupanya, sebut saja Kori. Beliau mengajak saya untuk mengikuti tantangan menulis, lalu saya mengajak yang lain untuk menulis, namun tidak ada yang tertarik, saya tidak sedih mungkin mereka lagi sibuk. Jadi baiknya saya langsung menulis saja, biar si Kori ga ngomel-ngomel melulu. Tapi sebelum tulisan ini selesai, saya harus bersusah payah mencari tempat wifi gratisan untuk menginstal Ms. word. Mohon maklum adanya, ditempat saya bernafas masih susah sekali mengakses internet gratis. Setelah beres menginstal Ms. word yang legendaris, saya langsung menulis, terus bercerita.

Dua puluh tahun yang lalu, saya masih belum begitu tahu atau bisa disebut gagal paham dalam urusan memainkan atau hal-hal yang berkaitan dengan musik, maklumnya karena saya lahir pada tahun 1993. Maaf, ini hanya prolog ga jelas, jadi jangan di masukkan kedalam hati kisanak.

Dimulai sekitar pertengahan tahun 2002 Masehi, pada usia sepuluh tahun sejak dilahirkan. Saya memulai aktifitas menjadi seorang pemain musik. Waktu itu saya terpilih menjadi bagian dari personel Hadrah aliran Al Banjariyah, maklumlah eike kan bocah alim. Kami terbagi menjadi 3 kelompok pemukul, pemukul batikah, manikah dan bagolong. Begitu sih, Pak guru menyebutkannya.

Kami sering pindah dari panggung satu ke panggung yang lain, namun masih dalam lingkup pesantren. Kalo acara wajib tahunan yang selalu kami tunggu adalah acara Haul pesantren. Acara dimana semua penghuni, kerabat beserta masyarakat sekitar pesantren tumplek blek dan kocar-kacir tertib dikawasan pesantren. Alasannya sih, Cuma pengen ngeksis dan unjuk kemampuan didepan pembesar dan tamu pesantren.

Setelah lulus sekolah dan 3 tahun bergelut di dunia hadrah. Kebanyakan dari kami yang melanjutkan ke Sekolah Menengah berbasis negeri lebih memilih untuk gantung rebana, gantung rebana adalah istilah yang digunakan untuk seseorang yang telah mengakhiri karier bermusik hadrah. Sampai sekarang saya sudah melupakan beberapa tehnik dasar memegang maupun memainkan rebana. Jadi saya tidak bermain hadrah dengan rebana lagi, tapi menggunakan kenangan dan imajinasi saya akan hadrah.

Sedikit cerita dari saya, meskipun tulisannya masih banyak berantakannya, tapi saya sudah menulis. Semoga tidak ada pihak yang tersinggung atau marah kepada saya.


Rumah Bersalin
2015 Masehi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar