16.9.15

Soundscape, melatih kepekaan telinga



Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti diskusi di Rumah Bersalin, Rumah Bersalin adalah nama untuk kontrakan saya. Diskusi tersebut berlangsung pada pagi hari waktu Indonesia Bagian Barat, tema diskusinya Soundscape. Saya baru mengenal istilah tersebut, beberapa teman diskusi juga merasakan hal yang sama, sama-sama baru denger istilah tersebut. Apakah kalian juga sama seperti kami?

Istilah Soundscape berasal dari dua kata, yaitu sound dan scape, sound artinya bunyi atau suara, sedangkan scape merupakan singkatan dari kata landscape, artinya pemandangan. Jadi bila digabungkan menjadi soundscape artinya adalah pemandangan yang  berupa suara atau bunyi. Istilah ini muncul baru saja, hasil renungan seorang komponis Kanada, Murray Scaffer (lahir pada tahun 1933) dalam bukunya berjudul “Ear Cleaning”, yang diterbitkan pada tahun 1967. Istilah pemandangan bunyi mungkin aneh bagi orang Indonesia, pemandangan bunyi membahas bagaimana suara-suara itu mengambil bagian dalam konteks suara dalam suatu lingkungan.

Konsep pemandangan suara sedikit berbeda dengan konsep pemandangan pada umumnya, khususnya dalam hal ide, secara umum pemandangan adalah wujud visual, yaitu yang dapat dilihat oleh mata, sedangkan pemandangan suara tidak dapat dilihat. Oleh karena itu maka Scafer mengusulkan agar nama pemandangan suara diganti dengan istilah pemandangan akustik atau pemandangan untuk telinga.

Belajar soundscape sama halnya dengan melatih kepekaan indra pendengaran kita. Dengan perkembangan teknologi muncul permasalahan, kemampuan telinga manusia semakin lama semakin lemah dan berkurang. Kita harus sadar bahwa lingkungan kehidupan kita dibentuk atau ditentukan oleh kesadaran kita dalam menggunakan indra yang kita miliki. Jaman dahulu kehidupan orang-orang kuno sangat bergantung dengan alam, sehingga mereka mampu memaksimalkan semua indra yang mereka miliki, termasuk indra pendengar. Saat ini lingkungan kita telah dibanjiri oleh polusi bunyi yang bertebaran dimana-mana, hal tersebut merupakan akibat dari sikap kita yang kurang peduli terhadap sumber bunyi di lingkungan kita.

Apakah kita masih peduli mendengarkan suara lingkungan? Atau Bagaimana cara kita untuk mengembalikan fungsi indra pendengar kita? Jawabannya ada pada kita, mana yang lebih cocok dengan kita, atau kita menghendaki suara lingkungan yang kita tentukan melalui rencana atau kesepakatan. Salam Pramuka!!!


1 komentar: